• 7

    Dec

    Percakapan Dengan Teman Tentang Musik

    Sebenarnya saya tidak begitu suka program musik yang sering tayang di pagi hari. Pada dasarnya itu program yang bagus untuk meningkatkan dunia musik tanah air dengan menyediakan lahan untuk para musisi mengeksiskan diri, namun ada yang mengganjal di balik itu. Contoh, saya melihat penonton di salah satu program yang seakan mereka sedang bersenam pagi. Mereka mengikuti instruktsi dari seseorang di balik layar, persis gaya yang pernah saya lakukan di depan kelas di waktu TK. Saya tidak pernah benar-benar melihat mereka menikmati musik yang sedang dimengerti. Mereka hanya tahu bersenang-senang ada di situ, semacam “Horeee, masuk TV!” Tetapi ada pula yang menguap-uap di depan kamera, pula menari-nari dengan ekspresi datar. Jujur, kalau menonton program yang satu itu, saya lebih me
  • 29

    Nov

    Pahlawan

    Hari Pahlawan yang jatuh di hari ulang tahun Ibuku memang sudah lewat. Namun tidak banyak dari rekan-rekan muda yang tertarik pada sejarah perjuangan para pahlawan yang rela mati demi Tanah Air kita. Salah satu pahlawan yang aku maksud adalah Daan Mogot. Pahlawan berdarah Minahasa ini adalah pahlawan kemerdekaan favoritku. Artikel tentangnya bisa kalian baca di Wikipedia atau dengan meng-klik gambar di bawah ini. Pahlawan adalah seseorang yang tidak patut kita lupakan. Tidak terabaikan jasa-jasanya, menghormati nama besarnya dan tetap dikenang turun-temurun. Bicara pahlawan, kita bicara tentang pribadi yang mengharumkan nama bangsa. Itu baru pahlawan! Seseorang yang mengangkat nama bangsanya di hadapan dunia, bukan semata-mata untuk meninggikan dirinya sendiri. Tetapi apakah pahlawan
  • 29

    Nov

    Tweet-tweet

    Suatu waktu, aku menyimak timeline. Waktu itu aku hanya sedang bingung tentang apa lagi yang harus kumainkan di Twitter. Maka kuperhatikan saja mereka semua, mereka yang berlalu lalang dalam layarku. Seperti yang pernah ku-tweet sebelumnya, bahwa “nikmatnya bila aku sedang lelah menulis adalah aku jadi suka untuk membaca .” Ada banyak kategori tweet di timeline-ku pada hari itu. Masing-masing menggambar isi kepala mereka dengan tweet yang mereka pamerkan. Sedang aku jadi mulai asyik sendiri. Memerhatikan macam kalimat yang terpajang dan mundar-mandir di dalam layar. Seperti biasanya, “kegalauan” masih mendominasi dan mencerahkan timelineku. Sisanya aku menangkap nikmat macam-macam topik dan pengetahuan, pula menemukan banyak berita dan informasi. Setelah lumayan la
  • 28

    Nov

    Apakah kamu sedang mengumbar kekhawatiran, seakan memajang banyak spanduk di tiap menitnya? Kekasih, jangan begitu! Kau hanya melihatku melakukan sesuatu di suatu tempat dalam kepalamu. Di sini, aku hanya tidak memakan umpan kemarahanmu. Namun apapun yang kau pikirkan dan betapa melencengnya bidik ragumu, terima kasih atas kecemburuanmu yang amat memanggang ini.
  • 28

    Nov

    Berserakan di tempat tidur kertas dan penanya. Ketika tak pernah sedikitpun kuberhenti, memikirkanmu sepanjang malam.
  • 28

    Nov

    Satu Detik

    Pasti pernah ada cerita. Demi menciptakan satu kemerdekaan, para pejuang harus melanggar seribu peraturan. Jadi jika aku harus melanggar beberapa peraturan untuk satu detik di samping kamu, artinya aku sudah berhasil menciptakan satu detik kemerdekaan untuk diri aku sendiri. Sedangkan untuk detik-detik berikutnya, aku tidak akan sempat memikirkannya. Jika kamu menyuruh aku memikirkan detik-detik berikutnya sekarang, sama saja kamu ingin aku memutuskan untuk melepas satu detik kemerdekaan itu dengan berat hati. Dan setelah itu terjadi, setengah mati melupakanmu adalah hukumannya. Maka ini adalah ketika otak harus menimang-nimang, menunggu beberapa kemungkinan. Tetapi di saat yang bersamaan, hati siap menerima hukuman.
  • 28

    Nov

    Kursi Nyaman Yang Tidak Aman

    Dia terlalu baik. Kebaikannya padaku? Keterlaluan! Ini tidak lagi terbilang hangat. Ketika dia memeluk tubuhku erat, aku sesak seperti dijerat selimut ketat. Maaf, keadaan ini bukanlah sebuah tempat untuk cinta beradu kuat. Hatiku jadi melembek, dipanaskan jago hatinya yang merengek. Maka izinkan aku mencari tabib, untuk otak yang telah terbakar dan terkelopek. Karena raga ini menjadi remuk memikirkannya berjam-jam. Pergi berarti menuduh diri dengan runcingnya kata kejam. Lihat hidupku yang semakin kelam! Malampun bisu mengisyaratkan alam, aku tetap di sini menanti masa-masa suram. Jadi berilah cara untukku supaya berhenti berpikir! Bebas bergerak, bebas menyisir, karena hidup tidak senilai dengan telur sebutir. Bisa mencintai yang lain, jangan sama lama dengan menghitung segenggam pasir
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post